Kamis, 08 Mei 2014

Sejarah Penulisan Novel OBSESI karya Lexie Xu


OBSESI ditulis pada bulan Desember 2009 (dalam satu bulan saja). Pada saat itu hidup hidup si penulis (Lexie Xu) sangat sepi, satu-satunya yang bergaul dengannya adalah Alexis yang kerjaannya mengajak main game horor. Akibatnya, di saat tengah malam buta, dia mulai membayangkan adegan yang tidak-tidak. Saat kebelet, nggak berani ke kamar mandi karena takut melihat bayangan orang lain di dalam cermin. Jadi, semua itu dituangkan dalam tulisan.
Perjuangan nerbitin OBSESI cukup lama. Meski sudah dikirim begitu selesai ditulis dan disetujui tiga bulan setelah dikirim, selama beberapa saat tidak ada kabar dari GPU. Selama menunggu Lexie mengisi waktu dengan menulis sekuel-sekuelnya. Dan penantiannya ternyata gak sia-sia. Hasilnya lebih dari sekedar kata sepadan.
Obsesi merupakan novel pertama dari johan series. Novel kedua dari seri johan tersebut adalah pengurus mos harus mati, permainan maut, dan yang terakhir adalah teror. Kenapa dibilang Johan Series? Menurut penulis dari keempat buku tersebut walau dengan tokoh utama yang berbeda2 tiap bukunya selalu ada Johan dibalik semua konflik yang terjadi. Dan banyak pembaca yang menyukai Johan walau sebenarnya dia adalah tokoh antagonis dalam seri novel ini.
Obsesi bercerita tentang dua orang sahabat, yakni Jenny—cewek cupu yang tinggal di sebuah rumah menyeramkan dan memiliki dua teman sekelas yang bernama sama dengannya—dan Hanny—cewek cantik dan populer yang suka gonta-ganti pacar. Suatu ketika, kedua sahabat itu diajak jalan oleh Tony dan Markus, dua orang cowok yang terkenal ganteng di sekolah mereka. Tony lantas mengajak Hanny pacaran, tapi kemudian ia mencampakkannya beberapa hari kemudian. Berdasarkan informasi dari Johan, salah satu sahabat Hanny yang berkacamata tebal, Tony melakukan itu untuk memenangi taruhan, dan ia berkomplot dengan Jenny. Hanny yang tengah berada dalam kondisi depresi pun percaya dan memutuskan untuk mengakhiri persahabatannya dengan Jenny. Bukan cuma itu, ia bahkan mengutuk Jenny untuk sial selamanya.
Beberapa hari berselang, sebuah kecelakaan menimpa Jenny lain, yakni Jenny Bajaj, yang diikuti dengan kecelakaan lain yang melibatkan Jenny yang satu lagi, Jenny Tompel. Kedua orang Jenny itu lantas menyalahkan kutukan yang dikeluarkan oleh Hanny sehingga mereka juga turut terkena getahnya. Jenny pun turut merasa was-was dan khawatir, tapi untunglah Tony, yang kini sudah berpacaran dengannya, dan Markus selalu memastikan dirinya tidak akan ditimpa oleh sesuatu yang buruk. Ketegangan semakin bertambah setelah munculnya beberapa kejadian aneh yang terjadi di rumah Jenny, yang membuat mereka bertiga menyelidikinya.
Sementara itu, setelah berpisah dari Jenny, Hanny semakin dekat dengan Johan. Ia bahkan sempat berkunjung ke rumah Johan yang menurutnya agak aneh. Namun, lama-kelamaan ia merasa kehilangan Jenny dan lalu berniat untuk kembali berdamai dengan Jenny. Namun, atas alasan yang tidak ia ketahui, Johan selalu tampak tidak setuju. Pada akhirnya Hanny tetap berbaikan dengan Jenny, dan dari situ, mereka jadi tahu kalau kejadian yang mereka alami selama ini tak lain hanya buah dari sebuah obsesi belaka.
Obsesi menyuguhkan penggunaan sudut pandang mejemuk yang mengagumkan. Baik pemikiran atau perbuatan yang dilakukan oleh Jenny dan Hanny maupun kejadian yang mereka alami saling berdiri satu sama lain sehingga terlihat betul perbedaan karakteristik mereka. Rasanya seperti ada dua orang yang bercerita sendiri-sendiri berdasar versi masing-masing, tapi pada akhirnya menyambung dan lalu membentuk satu alur utuh. Perbedaan sudut pandang ini juga telah dimanfaatkan dengan efisien sehingga—di samping sebagai variasi dari narasi—berfungsi sebagai pembentuk dan penjaga alur. Lexie sepertinya memliki minat untuk membawa novel ini menjadi mirip novel asing (terjemahan), tetapi ia enggan untuk meninggalkan kultur lokal. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar