OBSESI
ditulis pada bulan Desember 2009 (dalam satu bulan saja). Pada saat itu hidup
hidup si penulis (Lexie Xu) sangat sepi, satu-satunya yang bergaul dengannya
adalah Alexis yang kerjaannya mengajak main game horor. Akibatnya, di saat
tengah malam buta, dia mulai membayangkan adegan yang tidak-tidak. Saat
kebelet, nggak berani ke kamar mandi karena takut melihat bayangan orang lain
di dalam cermin. Jadi, semua itu dituangkan dalam tulisan.
Perjuangan
nerbitin OBSESI cukup lama. Meski sudah dikirim begitu selesai ditulis dan
disetujui tiga bulan setelah dikirim, selama beberapa saat tidak ada kabar dari
GPU. Selama menunggu Lexie mengisi waktu dengan menulis sekuel-sekuelnya. Dan
penantiannya ternyata gak sia-sia. Hasilnya lebih dari sekedar kata sepadan.
Obsesi
merupakan novel pertama dari johan series. Novel kedua dari seri johan tersebut
adalah pengurus mos harus mati, permainan maut, dan yang terakhir adalah teror.
Kenapa
dibilang Johan Series? Menurut penulis dari keempat buku tersebut walau dengan
tokoh utama yang berbeda2 tiap bukunya selalu ada Johan dibalik semua konflik
yang terjadi. Dan banyak pembaca yang menyukai Johan walau sebenarnya dia
adalah tokoh antagonis dalam seri novel ini.
Obsesi bercerita tentang dua orang
sahabat, yakni Jenny—cewek cupu yang tinggal di sebuah rumah menyeramkan dan
memiliki dua teman sekelas yang bernama sama dengannya—dan Hanny—cewek cantik
dan populer yang suka gonta-ganti pacar. Suatu ketika, kedua sahabat itu diajak
jalan oleh Tony dan Markus, dua orang cowok yang terkenal ganteng di sekolah
mereka. Tony lantas mengajak Hanny pacaran, tapi kemudian ia mencampakkannya
beberapa hari kemudian. Berdasarkan informasi dari Johan, salah satu sahabat
Hanny yang berkacamata tebal, Tony melakukan itu untuk memenangi taruhan, dan
ia berkomplot dengan Jenny. Hanny yang tengah berada dalam kondisi depresi pun
percaya dan memutuskan untuk mengakhiri persahabatannya dengan Jenny. Bukan
cuma itu, ia bahkan mengutuk Jenny untuk sial selamanya.
Beberapa hari berselang, sebuah
kecelakaan menimpa Jenny lain, yakni Jenny Bajaj, yang diikuti dengan
kecelakaan lain yang melibatkan Jenny yang satu lagi, Jenny Tompel. Kedua orang
Jenny itu lantas menyalahkan kutukan yang dikeluarkan oleh Hanny sehingga
mereka juga turut terkena getahnya. Jenny pun turut merasa was-was dan
khawatir, tapi untunglah Tony, yang kini sudah berpacaran dengannya, dan Markus
selalu memastikan dirinya tidak akan ditimpa oleh sesuatu yang buruk.
Ketegangan semakin bertambah setelah munculnya beberapa kejadian aneh yang
terjadi di rumah Jenny, yang membuat mereka bertiga menyelidikinya.
Sementara itu, setelah berpisah dari
Jenny, Hanny semakin dekat dengan Johan. Ia bahkan sempat berkunjung ke rumah
Johan yang menurutnya agak aneh. Namun, lama-kelamaan ia merasa kehilangan
Jenny dan lalu berniat untuk kembali berdamai dengan Jenny. Namun, atas alasan
yang tidak ia ketahui, Johan selalu tampak tidak setuju. Pada akhirnya Hanny
tetap berbaikan dengan Jenny, dan dari situ, mereka jadi tahu kalau kejadian
yang mereka alami selama ini tak lain hanya buah dari sebuah obsesi belaka.
Obsesi menyuguhkan penggunaan sudut
pandang mejemuk yang mengagumkan. Baik pemikiran atau perbuatan yang dilakukan
oleh Jenny dan Hanny maupun kejadian yang mereka alami saling berdiri satu sama
lain sehingga terlihat betul perbedaan karakteristik mereka. Rasanya seperti
ada dua orang yang bercerita sendiri-sendiri berdasar versi masing-masing, tapi
pada akhirnya menyambung dan lalu membentuk satu alur utuh. Perbedaan sudut
pandang ini juga telah dimanfaatkan dengan efisien sehingga—di samping sebagai
variasi dari narasi—berfungsi sebagai pembentuk dan penjaga alur. Lexie
sepertinya memliki minat untuk membawa novel ini menjadi mirip novel asing
(terjemahan), tetapi ia enggan untuk meninggalkan kultur lokal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar