Minggu, 22 Februari 2015

RESENSI NOVEL DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN



Judul               : Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Pengarang       : Tere Liye
Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : cetakan keempat Mei 2011
Halaman          : 264 halaman
ISBN               : 978-979-22-5780-9


Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji-janji masa depan yang lebih baik.
Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.
Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku
masih dikepang dua.
Sekarang, ketika dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah… biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun… daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.


Daun yang jatuh tak pernah membenci angin- sebuah novel tentang kisah cinta beda usia.
Tania, seorang gadis yang cantik dan pintar harus merasakan pahitnya kehidupan kumuh dikota besar.  Bersama adiknya-Dede, Tania bekerja mengamen dari bus satu ke bus lainnya untuk membantu sang ibu yang sering sakit-sakitan. Ayah Tania meninggal ketika Tania berumur 8 tahun. Sejak saat itu pula kehidupan mereka berbalik menjadi serba kekurangan. Tania, Dede, dan Ibunya diusir dari rumah kontrakan dan terpaksa harus tinggal di rumah kardus dekat sungai pembuangan.
Tania bertemu Danar saat usianya menginjak 11 tahun, terpaut sekitar 14 tahun dengan usia Danar. Pada saat itu, Tania dan Dede sedang mengamen, tanpa disengaja Tania menginjak sebuah paku payung karena ia tidak menggunakan alas kaki. Ketika itulah, Danar datang dan menjadi malaikat penolong bagi Tania dan keluarganya.
Bertemunya Tania dengan Ratna membuat Tania menyadari bahwa ia memiliki rasa yang istimewa terhadap Danar, malaikat penolongnya itu. Perasaan seorang gadis terhadap seorang pria. Perasaan yang seharusnya tidak layak ia rasakan.  Akhirnya, Tania berusaha menyembunyikan perasaan tersebut dengan cara menjauh dan kuliah ke Singapura. Akan tetapi, perasaan itu semakin lama semakin tumbuh membuat Tania harus merasa kesakitan ketika berhadapan dengan Danar, dan merasa sangat cemburu ketika melihat Danar dan Ratna bersama.
Ternyata semua menjadi semakin rumit ketika Danar memutuskan untuk menikahi Ratna. Apapun yang Tania rasakan menjadi sama sekali tidak ada artinya. Seperti daun yang tidak pernah membenci angin, seperti Tania yang harus mengikhlaskan perasaannya pada Danar.
***
Sudut pandang orang pertama membuat pembaca semakin terhanyut dalam emosi dan dapat merasakan apa yang dialami Tania selama membaca novel karya Tere Liye ini. Penggunaan kata “dia” untuk Danar juga membuatnya semakin menarik.
Alur penceritaan maju mundur yang tidak membingungkan. Saat Tania mengunjungi toko buku kenangan dan menceritakan setiap bagian-bagian dari teka-teki dalam hidupnya.
***
Kelebihan dan Kelemahan
              Kelebihan novel karya Tere Liye ini terletak pada gaya bahasa yang digunakan yaitu mudah dimengerti dan baik untuk dibaca karena didalamnya terdapat berbagai kutipan-kutipan menarik. Seperti pada kutipan :
“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.”
Kelemahan novel ini yaitu terdapat kesalahan penulisan pada halaman 155 :
Dedetakmengerti : Kak Ratna baik-baik saja ?
Seharusnya ditulis :
Dedetakmengerti : Kak Tania baik-baik saja?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar