Judul : Daun yang Jatuh Tak Pernah
Membenci Angin
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : cetakan keempat Mei 2011
Halaman : 264 halaman
ISBN : 978-979-22-5780-9
Dia bagai malaikat bagi
keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang
miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji-janji
masa depan yang lebih baik.
Dia sungguh bagai malaikat bagi
keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap
budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar
perasaan ini.
Ibu benar, tak layak aku
mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum,
terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku
masih dikepang dua.
masih dikepang dua.
Sekarang, ketika dia boleh jadi
tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri,
biarlah… biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun… daun yang tidak pernah
membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.
Daun
yang jatuh tak pernah membenci angin- sebuah novel tentang kisah cinta beda
usia.
Tania,
seorang gadis yang cantik dan pintar harus merasakan pahitnya kehidupan kumuh
dikota besar. Bersama adiknya-Dede,
Tania bekerja mengamen dari bus satu ke bus lainnya untuk membantu sang ibu
yang sering sakit-sakitan. Ayah Tania meninggal ketika Tania berumur 8 tahun.
Sejak saat itu pula kehidupan mereka berbalik menjadi serba kekurangan. Tania,
Dede, dan Ibunya diusir dari rumah kontrakan dan terpaksa harus tinggal di
rumah kardus dekat sungai pembuangan.
Tania
bertemu Danar saat usianya menginjak 11 tahun, terpaut sekitar 14 tahun dengan
usia Danar. Pada saat itu, Tania dan Dede sedang mengamen, tanpa disengaja
Tania menginjak sebuah paku payung karena ia tidak menggunakan alas kaki.
Ketika itulah, Danar datang dan menjadi malaikat penolong bagi Tania dan
keluarganya.
Bertemunya
Tania dengan Ratna membuat Tania menyadari bahwa ia memiliki rasa yang istimewa
terhadap Danar, malaikat penolongnya itu. Perasaan seorang gadis terhadap
seorang pria. Perasaan yang seharusnya tidak layak ia rasakan. Akhirnya, Tania berusaha menyembunyikan
perasaan tersebut dengan cara menjauh dan kuliah ke Singapura. Akan tetapi,
perasaan itu semakin lama semakin tumbuh membuat Tania harus merasa kesakitan
ketika berhadapan dengan Danar, dan merasa sangat cemburu ketika melihat Danar
dan Ratna bersama.
Ternyata
semua menjadi semakin rumit ketika Danar memutuskan untuk menikahi Ratna.
Apapun yang Tania rasakan menjadi sama sekali tidak ada artinya. Seperti daun
yang tidak pernah membenci angin, seperti Tania yang harus mengikhlaskan
perasaannya pada Danar.
***
Sudut
pandang orang pertama membuat pembaca semakin terhanyut dalam emosi dan dapat merasakan
apa yang dialami Tania selama membaca novel karya Tere Liye ini. Penggunaan
kata “dia” untuk Danar juga membuatnya semakin menarik.
Alur
penceritaan maju mundur yang tidak membingungkan. Saat Tania mengunjungi toko
buku kenangan dan menceritakan setiap bagian-bagian dari teka-teki dalam
hidupnya.
***
Kelebihan dan
Kelemahan
Kelebihan novel karya Tere Liye
ini terletak pada gaya bahasa yang digunakan yaitu mudah dimengerti dan baik
untuk dibaca karena didalamnya terdapat berbagai kutipan-kutipan menarik.
Seperti pada kutipan :
“Daun yang jatuh
tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak
melawan, mengikhlaskan semuanya. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang
indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus
memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian,
pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan
menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin
merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.”
Kelemahan
novel ini yaitu terdapat kesalahan penulisan pada halaman 155 :
Dedetakmengerti : Kak Ratna baik-baik saja ?
Seharusnya
ditulis :
Dedetakmengerti : Kak Tania baik-baik saja?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar